JUAL JAM TANGAN KEREN

TOKO HIJAB

Rabu, 04 Maret 2015

Aqidah IMAM SYAFI'I


1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Robi' bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi'i mengatakan:"Barangsiapa bersumpah dengan menyebut salah satu asma' ALLAH SWT kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarot. Dan barangsiapa bersumpah dengan menyebutkan selain ALLAH SWT, misalnya "demi Ka'bah", "demi ayahku" dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu maka ia tidak wajib membayar kaffarot.

Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan "demi umurku", ia tidak wajib membayar kaffarot. Namun bersumpah dengan menyebut selain ALLAH SWT adalah HARAM, dan dilarang berdasarkan Hadits Nabi SAW;"Sesungguhnya ALLAH SWT melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma' ALLAH atau lebih baik diam saja." (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530, Shahih Muslim, III/266, Manaqib asy-Syafi'i, I/405

Imam Syafi'i beralasan bahwa asma'-asma' ALLAH SWT itu bukan makhluk, karenanya siapa yang bersumpah dengan menyebut asma' ALLAH, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarot. (al-Baihaqi, as-Sunnah al-Kubro, X/28)

2. Imam Ibn al-Qoyyimmenuturkan dalam kitabnya Ijtima' al-Juyusy, sebuah riwayat dari Imam Syafi'i, bahwa beliau berkata :"Berbicara tentang Sunnah yang menjadi pegangan saya, shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain, adalah Iqrob seraya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain ALLAH SWT, dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan ALLAH SWT, serta bersaksi bahwa ALLAH SWT di atas 'Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak ALLAH SWT, dan ALLAH SWT turun kelangit terdekat kapan ALLAH SWT kehendaki."

3. Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, "Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada dalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi'i."

Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendebat di depan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka sebenarnya apa yang ada pada diri Anda?

Tiba-tiba beliau marah, bertanya:"Tahukah kamu dimana kamu sekarang?" Saya menjawab:"Ya". Beliau berkata:"Ini adalah tempat di mana ALLAH SWT menenggelamkan Fir'aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Muhammad saw pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?". "Tidak", jawab saya. "Apakah para sahabat pernah membicarakan masalah itu?". "Tidak pernah", jawab saya. "Berapakah jumlah bintang di langit", tanya beliau lagi.  "Tidak tahu", jawab saya. "Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang itu diciptakan?", tanya beliau. "Tidak tahu jawab saya". "Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata-kepalamu, terneyata kamu tidak tahu. Mana mungkin kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu", kata beliau mengakhiri.

Kemudian beliau menanyakankepada saya tentang masalah wudhu', ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata:"Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu ALLAH SWT ketika itu berbisik dalam hatimu. Kembali saja kepada firman ALLAH SWT:
QS Al Baqoroh: 163-164:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
"Karenanya, lanjut Imam Syafi'i, "Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan ALLAH SWT, dan janganlah kamu memaksa-maksa yang tidak dapat dicapai oleh akalmu." (Siyar A'lam an-Nubala', X/31)

4. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A'la, katanya, Saya mendengar Imam Syafi'i berkata:"Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlainan dengan apa yang diberi nama, atau sesuatu itu berbeda dengan sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir dzindiq".

5. Dalam kitabnya Ar-Risalah, Imam Syafi'i berkata:"Segala puji bagi ALLAH yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati oleh makhluk-Nya."

6. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya, Siyar A'lam an-Nubala' menuturkan dari Imam Syafi'i, kata beliau:"Kita menetapkan sifat-sifat ALLAH ini sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw, dan kita meniadakan tasybih (menyamakan ALLAH SWT dengan makhluk-Nya), sebagaimana ALLAH SWT juga meniadakan tasybih itu didalam firman-Nya:

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
 Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia

 Selengkapnya QS Asy-Syuraa : 11 adalah sebagai berikut:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.


7. Imam Ibn 'Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Sulaiman, katanya, "Saya mendengar Imam Syafi'i berkata tentang firman Allah SWT:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat/melihat) Tuhan mereka.
(QS Al MUTHOFFIFIN: 15)

"Ayat ini memberi tahu kita bahwa pada hari kiamat nanti ada orang-orang yang tidak terhalang, mereka dapat melihat ALLAH SWT dengan jelas." (al-Intiqo', hal. 79)

8. Imam al-Lalaka'i menuturkan dari ar-Rabi' bin Sulaiman, katanya, "Saya datang ke rumah Imam Syafi'i, ketika itu datang sebuah pertanyaan kepada beliau, "Apakah pendapat Anda tentang firman ALLAH SWT dalam surat Al-Muthoffifinayat 15, yang artinya, "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari (melihat) Tuhannya?"
Imam Syafi'i menjawab:"Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat ALLAH SWT karena dimurkai ALLAH SWT, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhoi ALLAH SWT akan dapat melihat-Nya."
ar-Rabi' lalu bertanya: "Wahai Abu Abdillah, apakah Anda berpendapat seperti itu?". "Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada ALLAH SWT", begitu jawab Imam Syafi'i. (Syarh Ushul I'tiqod Ahl as-Sunnah, II/506)

9. Imam 'Ibn 'Abdil Bar meriwayatkan, katanya, Di hadapan Imam Syafi'i ada orang menyebut-nyebut nama Ibrahim bin Isma'il bin Ulayah. Kemudian Imam Syafi'i berkata: "Saya berbeda pendapat dengan dia dalam segala hal. Begitu pula dalam kalimat "La ilaha illallah". Saya tidak berpendapat seperti pendapatnya. Saya mengatakan bahwa ALlAH SWT berfriman kepada Nabi Musa secara langsung tanpa penghalang. Sedangkan dia mengatakan, bahwa ketika ALLAH SWT berfirman kepada Nabi Musa as, ALLAH SWT menciptakan ucapan-ucapan yang kemudian dapat didengar oleh Nabi Musa as secara tidak langsung (ada penghalang). (al-Intiqo', hal. 79. al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi'i, I/35)

10. Imam al-Lalaka'i meriwayatkan dari ar-Robi' bin Sulaiman, bahwa Imam Syafi'i mengatakan:"Barang siapa mengatakan bahwa Al-Quran itu makhluk maka dia telah menjadi kafir." (Syarh Ushul I'tiqod Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, I/252)

11. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubair, katanya, Ada seorang yang bertanya kepada Imam Syafi'i, benarkah al-Quran itu kholiq (pencipta)?". Jawab beliau:"Tidak benar". "Apakah al-Quran itu makhluk?", tanyanya lagi. "Tidak", jawab Imam Syafi'i. "Apakah al-Quran itu bukan makhluk?", tanyanya berikutnya. "Ya, begitu", jawab Imam Syafi'i.
Orang tadi bertanya lagi: "Mana buktinya bahwa al-Quran itu bukan makhluk?". Imam Syafi'i kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: "Maukah kamu mengakui bahwa al-Quran itu kalam ALLAH SWT?". "Ya, mau", kata orang tadi. Imam Syafi'i kemudian berkata:"Kamu telah didahului oleh ayat:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ 
ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firmanAllah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yangtidak mengetahui.
(QS AT TAUBAH: 6)

dan ayat:

وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلاً لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.
(QS An NISA': 164)

Imam Syafi'i kemudian berkata lagi kepada orang tersebut: "Maukah kamu mengakui bahwa ALLAH SWT itu ada dan demikian pula Kalam-Nya? Atau ALLAH SWT itu ada, sedangkan Kalam-Nya belum ada?". Orang tadi menjawab:"ALLAH SWT ada, begitu pula Kalam-Nya."
Mendengar jawaban itu Imam Syafi'i tersenyum, lalu berkata: "Wahai orang-orang Kufah, kamu akan membawakan sesuatu yang agung kepadaku, apabila kamu mengakui bahwa ALLAH SWT itu ada sejak masa azali, begitu juga Kalam-Nya. Lalu dari mana kamu pernah punya pendapat Kalam itu ALLAH atau bukan ALLAH SWT?". Mendengar penegasan Imam Syafi'i itu, orang tadi terdiam, kemudian keluar. (Manaqib asy-Syafi'i, I/407-408) 

Dalam kitab Juz al-I'tiqod yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi'i, dari riwayat Abu Thalib al-'Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:
"Imam Syafi'i pernah ditanya tentang sifat-sifat ALLAH SWT, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: "Allah Tabaroka wa Ta'ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw, yang siapapun dari ummatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah ia. Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan dari sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidak apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidak tahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah SWT. Bahwa Allah SWT itu mendengar, Allah mempunya kedua tangan:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُواْ نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS Al Maidah: 64)


 Dan bahwa Allah SWT itu mempunyai tangan kanan:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung/dilipat dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS Az Zumar: 67)

Dan juga punya wajah:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali (wajah/wujud) Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Allah SWT juga memiliki telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW: "Sehingga Allah SWT meletakkan telapak kaki-Nya di Jahanam." (Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shohih Muslim, Kitab Al-Jannah, IV/2187

Allah SWT turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi SAW tentang hal itu. Mata Allah SWT tidak picak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi SAW yang menyebutkan, bahwa "Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah SWT itu tidak pecak sebelah mata-Nya." (Shahih Bukhari, Kitab al-Fitan, XIII/91. Shohih Muslim, Kitab al-Fitan, IV/2248.

Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah SWT pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan purnama. Allah SWT juga memiliki jari-jemari, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW: "Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada di antara jari-jari Allah SWT ar-Rohman." (Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72. Mustadrak al-Hakim, I/525. al-Ajiri, asy-Syari'ah, hal. 317. Ibn Mandah, ar-Radd.

Dan Nabi SAW juga mensifati-Nya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendengar sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa mentasybihkan (menyerupakan) Allah SWT dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah SWT tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya. Allah SWT berfirman:


فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
(QS Asy Syuro : 11) 

Aqidah Imam Syafi'i ini dinukil dari sebuah manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Pusat Universitas Leiden, Belanda.


B. Aqidah Imam Syafi'i Tentang Taqdir

1. Imam al-baihaqi meriwayatkan dari ar-Robi' bin Sulaiman, katanya, imam Syafi'i pernah ditanya tentang taqdir, jawaban beliau:

Apa yang Engkau kehendaki terjadi
Meskipun aku tidak menghendaki
Apa yang aku kehendaki tidak terjadi
Apabila Engkau tidak menghendaki

Engkau ciptakan hamba-hamba
Sesuai apa yang Engkau ketahui
Maka dalam ilmu-Mu
Pemuda dan kakek berjalan

Yang ini Engkau karuniai
Sementara yang itu Engkau rendahkan
Yang ini Engkau beri pertolongan
Yang itu tidak Engkau tolong

Manusia ada yang celaka
Manusia juga ada yang beruntung
Manusia ada yang buruk rupa
dan juga ada yang bagus rupawan
(Manaqib asy-Syafi'i, I/412-413. Syarh Ushul I'tiqod Ahl Sunnah wa al Jama'ah, II/702)

2. Imam al-baihaqi menuturkan dalam kitab Manaqib asy Syafi'i, bahwa Imam Syafi'i mengatakan: "Kehendak manusia itu teserah kepada Allah SWT. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah SWT Robbul 'Alamiin. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatan itu adalah salah satu makhluk Allah. Taqdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah SWT. Azab kubur itu hak (benar), pertanyaan kubur juga hak, bangkit dari kubur juga hak, hisan (perhitungan 'amal) itu juga hak. Surga dan neraka juga hak, begitu dalam Sunnah Nabi SAW. ((Manaqib asy-Syafi'i, I/415)

3. Imam al-Lalaka'i meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, Imam Syafi'i berkata: "Tahukah kamu siapa penganut paham Qodariyah itu? Yaitu orang yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu sampai hal itu dikerjakan orang." (Syarh Ushul I'tiqod Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, II/701)

4. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam asy-Syafi'i beliau: "Kelompok qodariyah yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai orang majusi dari umat Islam adalah orang-orang yang berpendapat bahwa Allah itu tidak mengetahui maksiat sampai ada orang yang mengerjakannya." (Manaqib asy-Syafi'i, I/413)

5.  Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari ar-Robi' bin Sulaiman dari Imam Syafi'i, bahwa beliau tidak mau sholat menjadi makmum di belakang penganut paham Qodariyah. (Manaqib asy-Syafi'i, I/413)

1. Imam Ibn 'Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi', katanya, Saya mendengar Imam Syafi'i berkata: "Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan (I'tiqod) di dalam hati. tahukah kamu firman Allah SWT:

(QS Al Baqoroh 2:143) (www.quran.com)
2:143
And thus we have made you a just community that you will be witnesses over the people and the Messenger will be a witness over you. And We did not make the qiblah which you used to face except that We might make evident who would follow the Messenger from who would turn back on his heels. And indeed, it is difficult except for those whom Allah has guided. And never would Allah have caused you to lose your faith. Indeed Allah is, to the people, Kind and Merciful. (QS Al Baqoroh: 143)
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS Al Baqoroh: 143)

Maksud kata "Imanakum" (iman kamu) adalah sholatmu ketika menghadap ke Baitul Maqdis. Allah menamakan sholat itu iman, dan sholat adalah ucapan, perbuatan, dan i'tiqod." (al-intiqo', hal. 81)

2. Imam al-baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubairi, katanya, Ada seorang bertanya kepada Imam Syafi'i, "Apakah amal yang paling utama?" Imam Syafi'i menjawab: "Yaitu sesuatu yang apabila hal itu tidak ada maka semua 'amal tidak diterima." "apakah itu?", tanya orang itu lagi. Di jawab oleh Imam Syafi'i:"Yaitu iman kepada Allah SWT dimana tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Iman adalah 'amal yang paling tinggi derajatnya; paling mulia kedudukannya, dan paling bagus buah yang dipetik darinya."
Orang tadi bertanya lagi: "Bukankah iman itu ucapan dan perbuatan, atau ucapan tanpa perbuatan?" Imam Syafi'i menjawab: "Iman itu adalah perbuatan untuk Allah SWT, dan ucapan itu adalah merupakan sebagian dari perbuatan ('amal) tersebut. Ia bertanya lagi: "Saya belum paham bagaimana itu, coba jelaskan lagi."
Imam Syafi'i menjelaskan: "Iman itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang yang jelas kekurangannya, dan ada pula iman yang bertambah." "Apakah iman itu ada yang tidak sempurna, tidak berkurang dan tidak bertambah?", tanya orang itu lagi. "Ya", jawab imam Syafi'i. "Apakah buktinya?", tanyanya lagi. Imam Syafi'i menjawab: "Allah SWT telah mewajibkan iman atas anggota-anggota badan manusia. Allah membagi iman itu untuk semua anggota badan. Tidak ada satupun anggota badan manusia kecuali telah diserahi iman secara berbeda-beda. Semua itu berdasarkan kewajiban yang ditetapkan Allah SWT.
Hati misalnya, dimana manusia dapat berpikir dan memahami sesuatu, merupakan "pemimpin" badan manusia. Tidak ada gerak anggota badan kecuali berdasarkan pendapat dan perintah hati. Begitu pula dua biji mata, dimana manusia melihat, dua daun telinga dimana manusia mendengar, kedua tangan yang dipakai untuk memukul, kedua kaki yang dipakai untuk memenuhi keinginan hatinya, lisan yang dipakai untuk berbicara, dan kepala dimana terdapat wajahnya.
Allah SWT mewajibkan kepada hati akan hal-hal yang tidak diwajibkan kepada lisan. Pendengaran atau telinga diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan kepada mata. Kedua tangan juga mendapatkan kewajiban yang tidak sama dengan kaki. Begitu pula farji juga mendapatkan kewajiban yang tidak sama dengan wajah.
Adapun kewajiban yang dibebankan oleh ALLAH SWT kepada hati adalah iman, maka beriqror (mengakui), mengetahui, meyakini ridho, meyerahkan diri, bahwa tidak ada Tuhan (Yang Haq) selain ALLAH SWT, Maha Esa ALLAH tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak memiliki isteri dan anak. Dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan ALLAH, dan mengakui semua yang datang dari ALLAH, baik Nabi maupun Kitab. Semua itu merupakan hal-hal yang diwajibakan oleh ALLAH kepada hati, dan hal itu adalah 'amal (pekerjaan) hati. 


16:106
Whoever disbelieves in Allah after his belief... except for one who is forced [to renounce his religion] while his heart is secure in faith. But those who [willingly] open their breasts to disbelief, upon them is wrath from Allah , and for them is a great punishment; (QS An Nahl : 106)
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS An Nahl : 106)


13:28 
Those who have believed and whose hearts are assured by the remembrance of Allah . Unquestionably, by the remembrance of Allah hearts are assured. (QS Ar-Ro'd: 28)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro'd: 28)
5:41
Sahih International
O Messenger, let them not grieve you who hasten into disbelief of those who say, "We believe" with their mouths, but their hearts believe not, and from among the Jews. [They are] avid listeners to falsehood, listening to another people who have not come to you. They distort words beyond their [proper] usages, saying "If you are given this, take it; but if you are not given it, then beware." But he for whom Allah intends fitnah - never will you possess [power to do] for him a thing against Allah . Those are the ones for whom Allah does not intend to purify their hearts. For them in this world is disgrace, and for them in the Hereafter is a great punishment.
(QS: Al Maidah: 41)
Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS: Al Maidah: 41)


2:284
To Allah belongs whatever is in the heavens and whatever is in the earth. Whether you show what is within yourselves or conceal it, Allah will bring you to account for it. Then He will forgive whom He wills and punish whom He wills, and Allah is over all things competent. (QS Al Baqoroh:284)
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al Baqoroh:284)

Maka keimanan seperti itulah yang diwajibakan oleh Allah SWT kepada hati, dan juga merupakan pangkal iman.
Allah SWT juga mewajibkan kepada lisan, yaitu mengucapkan dan menyebutkan apa yang telah diiqrarkan dan diyakininya di dalam hati. Allah SWT berfirman:


2:136
Say, [O believers], "We have believed in Allah and what has been revealed to us and what has been revealed to Abraham and Ishmael and Isaac and Jacob and the Descendants and what was given to Moses and Jesus and what was given to the prophets from their Lord. We make no distinction between any of them, and we are Muslims [in submission] to Him." (QS Al Baqoroh:136)
  
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS Al Baqoroh:136)
Allah SWT juga berfirman:
2:83
And [recall] when We took the covenant from the Children of Israel, [enjoining upon them], "Do not worship except Allah ; and to parents do good and to relatives, orphans, and the needy. And speak to people good [words] and establish prayer and give zakah." Then you turned away, except a few of you, and you were refusing. (QS Al Baqoroh : 83)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS Al Baqoroh : 83)

Itulah ucapan-ucapan yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada lisan yaitu mengatakan apa yang ada dalam hati. Dan hal itu merupakan pekerjaan lisan, dan keimanan yang diwajinkan kepadanya. 
Allah SWT juga mewajibkan kepada telinga (pendengaran) untuk tidak mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Allah berfirman:


4:140
And it has already come down to you in the Book that when you hear the verses of Allah [recited], they are denied [by them] and ridiculed; so do not sit with them until they enter into another conversation. Indeed, you would then be like them. Indeed Allah will gather the hypocrites and disbelievers in Hell all together -
(QS An Nisa' 140)
Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (QS An Nisa' 140)
Namun ada pengecualian, bila seseorang itu lupa sehingga duduk bersama orang-orang kafir itu. Allah SWT berfirman: 
6:68And when you see those who engage in [offensive] discourse concerning Our verses, then turn away from them until they enter into another conversion. And if Satan should cause you to forget, then do not remain after the reminder with the wrongdoing people. (QS Al An'am : 68)
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS Al An'am : 68)
Allah SWT berfirman:
39:17
Sahih International
But those who have avoided Taghut, lest they worship it, and turned back to Allah - for them are good tidings. So give good tidings to My servants
Indonesian
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,

39:18Who listen to speech and follow the best of it. Those are the ones Allah has guided, and those are people of understanding. (QS az Zumar: 17 - 18)
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS az Zumar: 17 - 18) 
Allah SWT juga berfirman:
23:1
Certainly will the believers have succeeded:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

23:2
They who are during their prayer humbly submissive
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

23:3
And they who turn away from ill speech
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

23:4
And they who are observant of zakah
dan orang-orang yang menunaikan zakat,
(QS Al Mu'minun: 1 - 4)
Allah SWT berfirman pula:


28:55

And when they hear ill speech, they turn away from it and say, "For us are our deeds, and for you are your deeds. Peace will be upon you; we seek not the ignorant." (Al Qhoshos: 55)
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (Al Qhoshos: 55)
bersambung ..........................

Allah SWT juga berfirman:

39:17But those who have avoided Taghut, lest they worship it, and turned back to Allah - for them are good tidings. So give good tidings to My servants

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,

39:18

Who listen to speech and follow the best of it. Those are the ones Allah has guided, and those are people of understanding.

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS az-Zumar 17-18) 

Allah SWT juga berfirman:

23:1
Certainly will the believers have succeeded:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

23:2
They who are during their prayer humbly submissive
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

23:3
And they who turn away from ill speech
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

23:4And they who are observant of zakah
dan orang-orang yang menunaikan zakat, (QS al-Mu'min 1-4)

Allah SWT berfirman pula:


28:55

And when they hear ill speech, they turn away from it and say, "For us are our deeds, and for you are your deeds. Peace will be upon you; we seek not the ignorant." 
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".
Begitu pula firman Allah SWT:
25:72

And [they are] those who do not testify to falsehood, and when they pass near ill speech, they pass by with dignity.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
(QS al-Furqon: 72)
  
Ayat-Ayat ini semuanya menunjukkan adanya kewajiban yang ditetapkan Allah SWT agar ia membersihkan diri darihal-hal yang haram didengar.
Dan hal itu merupakan pekerjaan telinga, dan itu termasuk iman.
Allah SWT juga mewajibkan dua mata manusia untuk tidak melihat hal-hal yang diharamkan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

24:30

Tell the believing men to reduce [some] of their vision and guard their private parts. That is purer for them. Indeed, Allah is Acquainted with what they do.
Katakanlah kepada orang mukmin: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

24:31
Sahih International
And tell the believing women to reduce [some] of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which [necessarily] appears thereof and to wrap [a portion of] their headcovers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands' fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers, their brothers' sons, their sisters' sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed.

Katakanlah kepada wanita yang beriman (mukminat): "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(QS an Nur 30 - 31)
Dalam ayat ini Allah SWT melarang orang mukmin untuk melihat kemaluan orang lain, dan menyuruh agar menjaga kemaluannya agar tidak dilihat ornag lain. Setiap ungkapan "menjaga kemaluan" di dalam al-Quran, maksudnya adalah berkaitan dengan zina, kecuali dalam ayat an-Nur ini, maksudnya adalah melihat.

Dan itulah yang ditetapkan oleh Allah SWT kepada kedua mata manusia, dan itu merupakan pekerjaan mata dan termasuk dalam iman.

Kemudian Allah SWT memberitahukan apa yang wajib dikerjakan oleh hati, telinga, dan mata, dalam sebuah ayat berikut ini:


17:36

And do not pursue that of which you have no knowledge. Indeed, the hearing, the sight and the heart - about all those [one] will be questioned.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al Isro': 36)

Maksud ayat ini adalah bahwa Allah SWT mewajibkan kepada farj (kemaluan) agar tidak digunakan untuk hal-hal yang haram. Allah SWT berfirman:

41:22

And you were not covering yourselves, lest your hearing testify against you or your sight or your skins, but you assumed that Allah does not know much of what you do.

Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (QS Fushshilat: 22)

Yang dimaksud dengan "kulitmu" dalam ayat ini adalah "kemaluan dan paha". Dan itulah yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada kemaluan agar menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak halal. Dan itu merupakan pekerjaan kemaluan.

Allah juga mewajibkan kedua tangan agar tidak digunakan untuk hal-hal yang diharamkan, tetapi justru agar digunakan dalam hal-hal yang diperintahkan Allah SWT, seperti sodaqoh, silaturahmi, jihad fi sabilillah, bersuci untuk sholat, dan lain-lain.Allah SWT berfirman:


5:6
5:6

O you who have believed, when you rise to [perform] prayer, wash your faces and your forearms to the elbows and wipe over your heads and wash your feet to the ankles. And if you are in a state of janabah, then purify yourselves. But if you are ill or on a journey or one of you comes from the place of relieving himself or you have contacted women and do not find water, then seek clean earth and wipe over your faces and hands with it. Allah does not intend to make difficulty for you, but He intends to purify you and complete His favor upon you that you may be grateful. 
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Maidah: 6)
  
Allah SWT juga berfirman:
47:4

So when you meet those who disbelieve [in battle], strike [their] necks until, when you have inflicted slaughter upon them, then secure their bonds, and either [confer] favor afterwards or ransom [them] until the war lays down its burdens. That [is the command]. And if Allah had willed, He could have taken vengeance upon them [Himself], but [He ordered armed struggle] to test some of you by means of others. And those who are killed in the cause of Allah - never will He waste their deeds.
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (QS Muhammad: 4)

Memerangi orang-orang kafir, silaturohmi, sodaqoh, dan lain-lain adalah perbuatan tangan.
Allah SWT juga mewajibkan kedua kaki manusia untuk tidak berjalan kepada hal-hal yang diharamkan Allah. Allah SWT berfirman:

17:37

And do not walk upon the earth exultantly. Indeed, you will never tear the earth [apart], and you will never reach the mountains in height.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS al-Isro': 37)

Allah SWT mewajibakan wajah untuk bersujud kepada Allah SWT siang dan malam, dan pada waktu-waktu sholat. Allah SWT berfirman:

22:77

O you who have believed, bow and prostrate and worship your Lord and do good - that you may succeed.

Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS al-Hajj: 77)

72:18
And [He revealed] that the masjids are for Allah , so do not invoke with Allah anyone.
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
(QS al-Jinn: 18)
Maksudnya menyambah di masjid, dimana manusia melakukan sholat dengan sujud. Dan itulah kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah SWT kepada anggota badan.

Allah SWT juga menyebutkan bersuci dan sholat (sembahyang) sebagai iman, yaitu ketika Allah SWT memerintahkan kepada Nabi SAW untuk memalingkan wajahnya dari menghadap ke Baitul Maqdis dalam sholat beralih ke Ka'bah di Makkah. Sementara kaum muslimin telah sholat dengan menghadap ke baitul Maqdis kemudian mengadu kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana dengan sholat kami yang menghadap ke Baitul Maqdis, apakah diterima oleh Allah?". Allah SWT kemudian menurunkan ayat:
2:143

And thus we have made you a just community that you will be witnesses over the people and the Messenger will be a witness over you. And We did not make the qiblah which you used to face except that We might make evident who would follow the Messenger from who would turn back on his heels. And indeed, it is difficult except for those whom Allah has guided. And never would Allah have caused you to lose your faith. Indeed Allah is, to the people, Kind and Merciful.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS al-Baqoroh: 143)

Dalam ayat ini Allah SWT telah menamakan sholat dengan iman. Maka siapa yang kelak bertemu dengan Allah SWT dengan menjaga sholat-sholatnya, menjaga anggota badannya, mengerjakan dengan seluruh anggota badannya apa yang diperintahkan dan diwajibkan Allah SWT, maka ia bertemu dengan Allah SWT dengan iman yang sempurna, dan ia termasuk penghuni surga. Sebaliknya, siapa yang anggota badannya dengan sengaja meninggalkan perintah-perintah Allah SWT, maka ia akan bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan imannya berkurang.

Begitulah penjelasan Imam Syafi'i tentang iman. Kemudian orang yang bertanya kepada Imam Syafi'i tadi bertanya lagi: "Saya sudah paham tentang berkurang dan sempurnanya iman. Dari mana datang tambahnya iman itu?" Imam Syafi'i menjawab dengan menyebutkan firman Allah SWT:

9:124
Sahih International
And whenever a surah is revealed, there are among the hypocrites those who say, "Which of you has this increased faith?" As for those who believed, it has increased them in faith, while they are rejoicing.
Indonesian
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.

9:125

But as for those in whose hearts is disease, it has [only] increased them in evil [in addition] to their evil. And they will have died while they are disbelievers.

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS at-Taubah: 124-125)

Allah SWT juga berfirman:

18:13

It is We who relate to you, [O Muhammad], their story in truth. Indeed, they were youths who believed in their Lord, and We increased them in guidance.

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS al-Kahf: 13)

Imam Syafi'i kemudian mengatakan: "Sekiranya iman itu satu, tidak ada yang tambah dan kurang, maka tidak ada kelebihan apa-apa bagi seseorang, dan semua orang sama. Tetapi dengan sempurnanya iman, orang mu'min akan masuk surga, dan dengan bertambahnya iman pula orang mu'min akan memperoleh keuntungan tingkatan di dalam surga. Sebaliknya bagi orang-orang yang imannya kurang, mereka akan masuk neraka.

Kemudian Allah SWT akan mendahulukan orang beriman lebih dahulu. Manusia akan memperoleh haknya berdasarkan kedahuluannya dalam beriman. Setiap orang akan memperoleh haknya, tidak dikurangi sedikitpun. Yang datang belakangan tidak akan didahulukan, yang tidak mulia karena rendahnya iman tidak akan didahulukan dari pada yang mulia karena ketinggian iman. Itulah kelebihan orang-orang yang terdahulu dari ummat ini. Seandainya orang-orang yang beriman lebih dahulu itu tidak mempunyai kelebihan, niscaya akan akan sama nilainya orang yang beriman belakangan dengan orang-orang yang beriman lebih dahulu." (Manaqib asy-Syafi'i, I/387-393) 

D. Pendapat Imam Syafi'i Tentang Sahabat
 
1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi'i, Allah SWT telah memuji para Sahabat Nabi SAW di dalam al-Quran, Taurot dan Injil. Dan Nabi SAW sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah SWT merahmati mereka, dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada' dan sholihin.
Mereka telah menyampaikan sunnah-sunnah Nabi SAW kepada kita. Mereka juga telah menyaksikan turunnya wahyu kepada Nabi SAW. Karenanya, mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah, baik yang bersifat umum mapun khusus, kewajiban maupun anjuran. Mereka mengetahui apa yang kita ketahui tentang sunnah Nabi. Mereka di atas kita di dalam segala hal, ilmu, dan ijtihad, kehati-hatian dan pemikiran, dan hal-hal yang diambil hukumannya. Pendapat-pendapat mereka, menurut kita, juga lebih unggul daripada pendapat-pendapat kita sendiri. (Manaqib asy-Syafi'i, I/442)

2. Imam al-Baihaqi menuturkan dari ar-Robi' bin Sulaiman bahwa ia mendengar Imam Syafi'i memandang Abu Bakar adalah yang paling utama diantara para sahabat, kemudian Umar, Utsman, dan kemudian Ali. (Manaqib asy-Syafi'i, I/442)

3. Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abd al Hakim, katanya, ia mendengar Imam Syafi'i berkata: "Manusia yang paling mulia setelah Nabi SAW adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali rodhiyallahu'anhum." (Manaqib asy-Syafi'i, I/442)

4. Imam al-Harawi juga meriwayatkan dari Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, katanya, Saya bertanya kepada Imam Syafi'i: "Apakah saya boleh sholat bermakmum di belakang orang Rofidhi (Sy'iah)?" Beliau menjawab: "Jangan kamu sholat menjadi makmum orang Rofidhi, Qodari (penganut paham Qodariyah), dan penganut paham Murji'ah." Saya bertanya lagi: "Apakah tanda-tanda mereka itu?" Beliau menjawab: "Orang yang berpendapat bahwa iman itu hanya ucapan saja, maka ia penganut paham Murji'ah. Orang yang berpendapat bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imam umat Islam adalah penganut paham Rofidhoh. Dan orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kehendak mutlak dan dapat menentukan nasibnya sendiri, ia adalah penganut paham Qodariyah." (Dzamm al-Kalam, lembar 215. adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', X/31)


E. Pendapat Imam Syafi'i tentang Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama

1. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ar-Robi' bin Sulaiman, katanya, Saya mendengar Imam Syafi'i berkata: "Seandainya ada orang yang berwasiat kepada orang lain untuk megnambil kitab-kitabnya yang berisi ilmu-ilmu keislaman, sementra diantra kitab-kitab itu ada kitab-kitab Kalam, maka kitab-kitab Kalam itu tidak masuk dalam wasiat, karena Kalam itu tidak masuk dalam ilmu keislaman." (adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', X/30. Dzam al-Kalam, lembar 213)

2. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Hasan az-Za'farani, katanya, Saya mendengar Imam Syafi'i berkata: "Saya tidak pernah berdiskusi dengan seorang pun dalam masalah Kalam kecuali hanya satu kali saja. Dan itu kemudian saya membaca istighfat, minta ampun dari Allah SWT." (adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', X/30. Dzam al-Kalam, lembar 213)

3. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ar-Rabi bin SUlaiman, katanya, Imam Syafi'i pernah berkata: "Seandainya saya mau, saya akan membawa kitab yang besar untuk berdiskusi dengan lawan pendapatku. Tetapi untuk berdiskusi tentang masalah Kalam , saya tidak suka dikait-kaitkan dengan Kalam." (adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', X/30. Dzam al-Kalam, lembar 215)

4. Imam Ibn Battah meriwayatkan dari Abu Tsaur katanya, Imam Syafi'i pernah berkata kepadaku: "Saya tidak pernah melihat orang menyandang sedikitpun tentang Kalam kemudian ia menjadi orang yang beruntung." (al-Ibanah al-Kubro,  hal. 535 - 536)

5. Imam al-harawi meriwayatkan dari Yunus al-mushri, katanyan, Imam Syafi'i pernah berkata: 'Seandainya Allah SWT memberikan cobaan (ujian) kepada seseorang, sehingga ia melakukan larangan-larangan Allah SWT selain syirik, hal itu masih lebih bagus dari pada ia mendapat cobaan (ujian) dengan terperosok pada Ilmu Kalam." (Ibn Abi Hatim, Manaqib asy-Syafi'i, hal. 182)

Itulah rangkuman pendapat-pendapat Imam Syafi'i tentang masalah Ushulluddin, dan sikap beliau tentang Ilmu Kalam.

sebelumnya
D. Pendapat Imam Syafi'i Tentang Sahabat


http://.com/2009/12/marketing-plan1-a.jpg



Paket-Umroh-Arofah-9-hari-Garuda-Hotel-Bintang-5-Arminareka-Perdana_des2014

Paket-Umroh-Mina-9-hari-Garuda-Hotel-Bintang-4-Arminareka-Perdana_Des2014


Paket-Umroh-Muzdalilfah-9-hari-Lion-Air-Hotel-Bintang-4-Arminareka-Perdana_des2014

Paket-Umroh-Marwa-13-hari-FlyNas-Hotel-Bintang-4-Arminareka-Perdana_des2014


Paket-Umroh-Plus-Turki-Aqsa-Dubai-Cairo-Hotel-Bintang-5-Arminareka-Perdana_Des2014

















http://travelhaji.files.wordpress.com/2009/12/marketing-plan1-a.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hosting Unlimited Indonesia
Unduh Adobe Flash player

Subscribe me

bisnis e-miracle asli bersama joinsyariah.com

Total Tayangan Halaman