1. Beliau saw berbicara berdasarkan wahyu semata, bukan hawa
nafsu
Sahih International
By the star when it descends,
Indonesian
Demi bintang ketika terbenam.
Sahih International
Your companion [Muhammad] has not strayed, nor has he erred,
Indonesian
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
Sahih International
Nor does he speak from [his own] inclination.
Indonesian
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa
nafsunya.

Sahih International
It is not but a revelation revealed,
Indonesian
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
2. Semua yang diucapkan beliau saw adalah kebenaran
Beliau saw bersabda kepada Abdullah bin Amr:
Uktub fawalladzii nafsii biyadihi maa khorojaminnii illal hkaqqu
“Tulislah! Demi Dzat yang diriku ditanga-Nya tidaklah yang kuucapkan
itu kecuali kebenaran.” (Hadits hasan riwayat Abu Daud)
3. Ucapan belaiu saw singkat dan bermakna luas
Bu’its tu bijawaa mi’ilkalimi wanushirtu birru’bi
fabainamaa anaa naaimurroaitunii uutiitu bimafaatiihki khozaainil ardwi
fawudwi’at fiiyadii
“Aku diutus dengan jawami’ul kalim (ungkapan singkat bermakna luas),
aku ditolong dengan rasa takut musuh. Ketika sedang tidur, aku bermimpi diberi
kunci-kunci perbendaharaan bumi (Maksudnya beliau dimudahkan menaklukkan
negeri-negeri), kemudian diletakkan tanganku.” (HR. Bukhori)
4. Ucapan beliau jelas dan lugas
Dari ‘Aisyah yang berkata:
Maakaana Rasulullah saw yasridu kasardikum hadtaa walakinnahu
kaana yatakallamu bikalaaminm baiyining fashliy yahk fadhuhu
manjalasa ilaih
“Rasulullah saw tidak suka merangkai kalimat-kalimat indah seperti
kalian, tetapi beliau berbicara dengan kalimat yang jelas dan lugas, mudah
dihafalkan oleh orang-orang yang duduk bersamanya.” (HR. Muslim)
5. Apabila beliau saw membicarakan sesuatu pembicaraan, maka
kalau ada yang mau menghitung (ucapannya), niscaya ia akan bica menghitungnya.
(Mutafaq’alaih)
6. Beliau saw itu banyak diam. (HR. Ahmad dengan sanad
Hasan)
7. Agar dapat dipahami, terkadang beliau saw mengulang ucapannya tiga kali.
Kaana Rosulullah saw yu’idul kalimata tsalatsal litu’qola
‘anhu
“Beliau Rasulullah saw mengulangi perbuatannya tiga kali supaya bisa
dimengerti.” (HR. Bukhori)
8. Rasulullah saw suka berdoa dengan kalimat yang jami’ dan
tidak dengan yang lain. (HR. Ahmad)
9. Bila Rasulullah SAW berkhotbah, matanya memerah, suaranya
lantang, dan kelihatan sangat marah seakan beliau memberi peringatan datangnya
musuh seraya berkata musuh telah datang diwaktu pagi dan sore. (HR. Muslim)
Sumber:
Muhammad bin Jamil Zainu, Pribadi dan Akhlak Rasulullah saw, terjemah, Al Qowam, 2000 halaman 28 - 30
Sumber:
Muhammad bin Jamil Zainu, Pribadi dan Akhlak Rasulullah saw, terjemah, Al Qowam, 2000 halaman 28 - 30